Azwar

Berbagi cerita dan informasi

Jangan acuhkan kita, kita kan pembeli…

Anda pernah beli sesuatu, mungkin makanan di warung dan ketika anda datang, bukannya anda ditanya mau makan apa atau mau beli apa, malah anda dicuekin oleh pemilik/penjual tsb, penjual dengan enaknya ngobrol ngalor-ngidul sementara anda berdiri di warung dia dan dia melihat anda yang baru datang. Pasti anda perasaannya agak janggal.

Yah seperti itulah yang sering saya alami ketika saya hendak membeli makan di warung, sering kali kami sebagai pembeli diperlakukan acuh tak acuk oelh penjual, sementara kami baru datang di warung dan penjual melihat kami, eee dia tetap ngobrol dengan santai tanpa menyambut kita. Setidaknya penjual bertanya: “Silahkan, mau beli/makan apa?”. Tapi tidak demikian yang kami alamai, sebaliknya, kami malah dianggap patung. Saya menulis ‘kami’ di sini berarti saya dan teman saya dan orang lain juga. Dan bukan kita yang memiliki masalah dengan warung tersebut, tapi penjual lah yang bermasalah dengan para pembelinya. Dengan tidak menggubrisnya.

Rasa hormat seorang penjual kepada pembeli hampir tidak ada.

Teman saya mengalami kejadian lebih parah, di daerah yang sama, namun beda warung (jaraknya sangat jauh). Teman saya membeli makanan. Sewaktu pertama datang, dia tidak digubris, penjual malah asik ngobrol. Teman saya akhirnya bilang bahwa dia ingin membeli sesuatu (makanan). Penjual akhirnya melayani, namun, dengan tetap mengobrol. Alhasil, penjual melayani dengan sangat santai, mengerjakan dan memasak makanan yg dipesan teman saya seraya mengobrol dengan temannya (sama2 penjual di situ). Seharusnya makanan 5 menit sudah siap, dan teman saya bisa segera pulang. Namun apa boleh dikata, penjual mengerjakan dan memasak makanan dengan sangat lambat, sembari ngobrol, tidak fokus dengan pekerjaannya dan hasilnya pun, 30 menit lebih makanan itu baru bisa disajikan. 30 menit! Bayangkan. Seharusnya 5 menitan, ini malah 30menit.

Kesimpulannya, sebagai pedagang, bersikaplah welcome terhadap pembeli, ramah, hangat, friendly dan bersikap menyambut. Jangan mengacuhkan pembeli dan malah ngobrol tidak penting, padahal hanya sekedar obrolan ringan. Pembeli harus diutamakan. Jika tidak demikian, maka pembeli akan kabur dan tidak akan datang lagi, seperti teman saya yang telah mengalami kejadian tsb.

Tentu tingkat pendidikan para penjual berbeda2, sehingga penyikapan mereka thd pelanggan pun berbeda pula. Namun, serendah-rendahnya tingkat pendidikan seseorang, pastilah orang tersebut tahu dan punya sopan santun. Sehingga tahu bagaimana cara memperlakukan pelanggan/pembeli.

Apakah anda pernah mengalaminya kejadian seperti di atas? Semoga tidak.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: