Azwar

Berbagi cerita dan informasi

Software Development: Pentingnya menggunakan framework yang mainstream

Pada artikel ini saya mau mencoba menjelaskan, pentingnya menggunakan framework yang mainstream.

Sebelum saya menjelaskannya, berikut ini saya berikan suatu kasus dimana project berjalan lambat karena kurang mengikuti mainstream.

Katakanlah ada suatu perusahaan A, perusahaan ini mengerjakan sebuah project untuk suatu aplikasi. Selama dalam tahap developmentnya, mulai awal pembuatan aplikasi tersebut, perusahaan tersebut membuat sendiri struktrur kode program atau membuat library sendiri. Ok, membuat struktur ataupun library sendiri adalah suatu nilai plus, karena secara internal berarti perusahaan tersebut punya standar sendiri. Namun bagaimana jika standar tersebut adalah sesuatu yang jauh dari standar Software Development pada umumnya (dibilang design patern juga bukan).

Bagi programmer yang membuat struktur sendiri tersebut tentu merasa nyaman menggunakannya, karena dia yang membuat sendiri maka dia paham bagaimana menggunakannya. Namun bagaimana jika ada programmer baru yang ikut bergabung mengembangkan aplikasi yang digunakan menggunakan struktur standar internal tersebut, tentu akan dibutuhkan banyak waktu dan tenaga. Butuh waktu untuk menjelaskan bagaimana menggunakannya, dan juga butuh tenaga untuk menjelaskan. Bagaimana sendainya standar struktur program tersebut tidak didokumentasikan secara profesional seperti layaknya pendokumentasian software development? Ini akan lebih membingungkan lagi, karena programmer baru tersebut tidak memiliki referensi sebagai pegangan sehingga ketika programmer baru tersebut menemukan masalah perihal penggunaan struktur program tersebut makan mau tidak mau programmer baru tersebut haru bertanya kepada programmer pembuat struktur program. Bagaimana jika programmer pembuat struktur program itu berhalangan untuk bekerja atau malah keluar/pindah? Pastilah ini akan menjadi ancaman dan menjadi ketergantungan yang besar.

Solusinya:

Gunakanlah framework yang mainstream, yaitu framework yang telah dikenal luas dan telah digunakan oleh banyak programmer, memiliki dokumentasi yang banyak dan lengkap, memiliki support komunitas yang banyak, stabil, dan segala macamnya…

Dengan menggunakan framework yang mainstream ini, jika ada programmer baru yang akan bergabung mengembangkan aplikasi yg sedang dikerjakan, maka kita tinggal bertanya pada programmer tersebut, apakah kamu bisa menggunakan framework ini? apakah pernah implementasi? dan lain sebagainya.

Jika programmer tersebut masih belum terlalu mahir, programmer tersebut bisa mencari bahan referensi berupa dokumrntasi, vidoe tutorial, buku atau malah bisa bertanya dg komunitas melalui forum, toh frameworknya sudah terkenal.

Nah sekarang timbul pertanyaan, bagaimana jika membuat framework sendiri? Apakah tidak boleh?

Jawabannya adalah boleh dan bahkan sangat boleh! Namun dengan catatan:

– Jika mau membuat framework sendiri, tentukan arsitekturnya, apakah MVC atau apa. Ini akan mempermudah si pengguna nantinya, jika menggunakan MVC misalkan, maka penggunakan akan tahu oh ini menggunakan MVC. Jika anda mengarang sendiri (tidak mengambil dari salah satu jenis software architecture) maka pengguna akan bingung terhadap, apa yg sebenarnya dia pakai.

–  Dokumentasikan framework tersebut dengan detail, lengkap dan rapih. Ini bertujuan untuk memberikan referensi bagi calon pengguna sekaligus untuk memantau fitur-fitur apa saja yang akan dikembangkan, diperbaiki atau bahkan dihilangkan.

– Publikasikan, lebih bagus lagi jika dipublikasikan, dibuat menjadi opensource, sehingga akan menambah pemngguna dan juga pengembang framework tersebut. Namun jika ingin private, tidak perlu dipublish juga tidak apa-apa.

Bagi saya ketiga poin tersebut cukup bisa membantu untuk mengurangi resiko ketika memang harus membuat framework sendiri.

Membuat framework sendiri juga bukan hal yang salah, toh beberapa framework yang terkenal pun awalnya berasal dari framework yang dipakai di lingkungan sendiri. Namun perlu diingat, jika anda membuat framework sendiri berarti anda akan membutuhkan lebih banyak tenaga, waktu dan biaya. Dan kebanyakan, para perusahaan besar lah yang membuat framework sendiri, itu pun kemudian di-open.

Demikian pendapat saya, semoga bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: