Azwar

Berbagi cerita dan informasi

Tips Memilih Web Framework Python

Django logo

logo django framework

Halo teman, setelah kemarin saya posting mengenai beberapa buku Python gratis dan legal dengan lisensi OpenSource (baca: Buku Python Gratis, Lisensi OpenSource), sekarang saya akan memberikan sedikit tips bagaimana memilih web framework Python yang akan anda gunakan.

1. Full stack atau Basic framework??

Anda harus menentukan apakah framework yang akan anda gunakan adalah jenis Full stack atau basic.

Fullstack adalah, semua komponen yang dibutuhkan seperti databse library (ORM, active record, DRM), templating, authentication module, dll sudah tersedia alias included. User tinggal menginstall saja, tidak perlu menambah atau mengganti komponen tsb.

Basic adalah, framework yang hanya menyediakan core/inti dari framework tsb. Tidak menyediakan fitur templating, database library, authentication module dan sebagainya. Oleh karena itu, user bebas memilih komponen yang mana yang dia suka untuk digabungkan/dimasukkan kedalam framework basic ini. Contoh untuk templating, user bisa memilih Mako, Jinja2, Genshi atau yang lain. Begitu juga dengan pemilihan database library serta komponen yang lain.

Perhatikan, jika anda memilih Full stack, berarti anda harus siap mempelajari semua komponen yang disediakan oleh framework tersebut. Jika framework tersebut menggunakan ORM buatannya sendiri, maka anda harus mempelajari ORM bawaan framework tersebut, begitu juga dengan komponen yang lain. Sebaliknya, jika anda memilih basic framework, anda harus meluangkan waktu sedikit untuk mengkombinasikan componen yang diperlukan oleh framework tersebut, anda harus memasukkan templating enggine pilihan anda, ORM pilihan anda, dan sebagainya. Atau jika anda sudah memiliki komponen favorite, sebagai contoh SQLAlchemy sebagai ORM, anda akan dengan mudah menggunakannya dan bisa memotong learning curve (proses belajar).

2. Skala besar atau kecil

Apakah anda akan membuat aplikasi web skala besar atau skala kecil? Pilihlah framework yang sesuai untuk kebutuhan tsb. Biasanya, jika kita akan membuat apliakasi yang besar, solusinya adalah full stack framework, sedangkan untuk skala kecil menggunakan basic framework. Namun ini tidak mengikat, semua tergantung dari sang programmer.

3. Rapid development atau biasa-biasa saja

Jika anda ingin membuat aplikasi web secara rapid, melakukan pendekatan secara hi-level, anda bisa menggunakan fullstack framework, dan anda tinggal fokus dengan apa yang ada pada framework tsb. Sedangkan jika anda ingin membuat aplikasi web dengan jangka waktu yang biasa-biasa saja (santai), anda bisa menggunakan basic framework, anda bisa mencoba mengkombinasikan beberapa komponen sesuai kenginan anda.

4. Jumlah komunitas dan aktivitasnya

Perhatikan juga jumlah komunitas yang menggunakan framework tsb, biasanya framework yang memiliki banyak komunitas akan terjaga kelangsungan developementnya. Terlebih lagi semakin banyak developer yang terlibat dalam project framework tsb.

Aktivitas komunitas juga perlu diperhatikan, semakin tinggi aktivitas, maka semakin besar kemungkinan peran developer dalam merespon bug fixing dan melakukan development lifecycle.

5. Umur dari project framework tsb

Semakin tua umur sebuah project framework, maka biasanya framework tersebut sudah teruji. Tua dalam hal ini adalah pengembangannya sudah berlangsung lama dan pihak yang menggunakannya pun cukup banyak. Berbeda dengan framework yang baru muncul, biasanya penggunanya masih sedikit dan masih sering atau banyak bug (meskipun stable release), developer yang ikut andil dalam pembuatan project tsb pun biasanya masih sedikit.

6. Lisensi

Berhati-hatilah dengan lisensi dari apa yang anda pakai, begitu juga denga framework, untungnya oh untungnya, dunia Python adalah dunia orang bergotong-royong secara bebas, tidak dikekang atau di-drive oleh suatu perusahaan dibaliknya. Kultur Python adalah benar-benar OpenSource secara total, maka kebanyakan lisensi dari framework tsb berlisensi OpenSource friendly, meskipun demikian kita harus tetap selektif.

Beberapa web framework pada Python:

Kesimpulan.

Masih banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih framework, sayangnya saya tidak bisa menjabarkan semuanya disini. Anda bisa membaca website resmi dari framework yang akan anda pilih dari situ anda bisa membuat penilaian dari apa yang anda baca.

Bacalah dokumentasi resmi dari framework tersebut, dan bila perlu, bergabunglah dengan forum atau milisnya.

Demikian sedikit tips dari saya, semoga memberi manfaat dan bisa menjadikan gambaran bagi yang sedang bingung memilih framework.

Iklan

6 responses to “Tips Memilih Web Framework Python

  1. kuntoajii Februari 19, 2012 pukul 10:03 pm

    baru tau ada yang namanya Genshi. thanks for sharing..

  2. Klinik Python Indonesia Februari 22, 2012 pukul 8:29 am

    Salam Kenal Mas…
    Wah..Sip!…Jadi pengin belajar web frame work via python. trims

  3. green Februari 26, 2013 pukul 8:34 pm

    makasi infonya gan..bermanfaat untuk ane yg nubi soal python gini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: