Azwar

Berbagi cerita dan informasi

Profesionalisme seorang Author

Membuat website berbasis konten seperti website berita adalah hal yang gampang-gampang susah. Gampang karena selain kita bisa mencari sumber langsung ke lapanga, kita juga bisa mendapatkan sumber yang melimpah di Internet. Seperti meliput berita tentang versi baru web browser Mozilla Firefox, kita bisa langsung mengunjungi website resi Firefox, karena firefox sendiri pun membuat website tersebut untuk dijadikan konsumsi publik.

Menulis sebuah konten bisa menjadi hal yang mudah jika ceritanya seperti di atas, kita tinggal membaca referensi website Mozilla (sebagai contoh). Tidak boleh copy paste tentunya, kita bisa mengolah dengan gaya bahasa kita sendiri. Bila perlu kita juga harus menyampaikan “berdasarkan website resmi Mozilla.. bla bla bla”. Tapi bagaimana jika hal yang mudah ini tidak ‘disyukuri’ oleh seorang author?

Suatu ketika saya membentuk team untuk membuat website berbasis konten dengan tema, berita seputar IT. Masing-masing anggota memiliki tugasnya sendiri-sendiri. Namun selain tugas spesifik bagi tiap anggota, ada juga tugas bersama, yaitu membuat konten website itu sendiri. Setiap anggota wajib menyumbangkan tulisan untuk website tsb, karena kita belum punya author.

Singkat cerita, tibalah saatnya untuk mengumpulkan sumbangan tulisan, dan tiba juga waktu untuk mereview tulisan. Apa yang saya temukan ternyata sangat mencengankan. Tatanan kalimat sama sekali tidak bisa dipahami. Bukan hanya kalimatnya rancu, tapi inti kalimat in tak ada arahnya. Saya bingung, sekaligus sedih, karena saya tahu persis bahwa ada di anggota ini yang menggunakan Google Translate dalam menulis artikel tsb, murni copy paste dari Google Translate. Dengan ini, saya berkesimpulan, sepertinya mengolah tulisan dari referensi yang sudah ada pun masih menjadi sesuatu yang sulit, apakah memang sulit ataukah memang orangnya yg tidak bisa. Well, saya tidak tahu.

Kesalahan besar terhadap studi kasus di atas:

  1. Meng-copy tanpa menuliskan sumbernya adalah kesalahan besar.
  2. Melakukan translate dengan mesin (Google Translate) juga sebuah kesalahan besar dan tidak profesional.

Kesimpulannya, melakukan copy-paste Google Translate adalah suatu ketidak profesionalan seorang author. Dan dengan melakukan copy-paste Google Translate berarti telah membuat minimal dua dosa/kesalahan besar. Yaitu: copy-paste dan translate palsu (translate dg mesin).

 

Iklan

2 responses to “Profesionalisme seorang Author

  1. Hend Oktober 23, 2012 pukul 10:40 pm

    Saya setuju jika :
    Meng-copy tanpa menuliskan sumbernya adalah kesalahan besar.
    Saya tidak setuju jika :
    Melakukan translate dengan mesin (Google Translate) juga sebuah kesalahan besar dan tidak profesional.
    Melakukan translate dengan mesin belum tentu sebuah kesalahan besar yang tidak profesional. Semua orang mempunyai hak melakukan apa saja asal tidak melanggar hukum. Bukan hanya orang yang pintar berbahasa inggris saja yang berhak membuat artikel bahasa inggris, tapi orang yang nol dalam bahasa inggris juga berhak membuat artikel bahasa inggris walaupun hanya mengandalkan google translate. Bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki biaya untuk mengikuti kursus bahasa inggris? Lalu bagaimana nasib bagi mereka yang hanya memiliki pendidikan yang rendah? Kenapa kita yang harus pusing? Kenapa kita baca jika tatanan kata-katanya sulit kita pahami? Bukankah lebih baik kita biarkan saja mereka sendiri yang menanggung resikonya jika tatanan kalimat sulit dipahami?!

    • azwar Oktober 24, 2012 pukul 4:37 am

      Terimakasih untuk komentarnya. 😀

      Tanggapan saya mengenai translate menggunakan mesin.
      Silahkan anda melakukan translate menggunakan mesin. Dalam artikel ini saya tidak melarang siapapun untuk melakukan translate dengan mesin. Tapi, ketika seseorang bekerja dengan saya, bekerja kepada saya, yang mana pekerjaannya itu membuat sebuah artikel berita. Maka saya dengan tegas melarangnya. Bagaimana kalau dia adalah orang yang tidak pandai dalam berbahasa, maka jelas lah bahwa orang tersebut tidak memiliki kualifikasi menjadi seorang penulis berita bagi saya. Seorang bos tukang jahit misalnya; tidak akan mau merekrut orang yang tidak bisa menjahit, karena untuk menjadi penjahit ya mau tidak mau harus bisa menjahit. Seorang yang membutuhkan pekerja sebagai desainer, tentu butuh orang yang bisa melakukan design, karena pekerjaan desainer memang mendesign, maka orang yang mau mendaftar kerja harus bisa mendesign. Saya membutuhkan orang sebagai penulis berita, maka saya hanya mau menerima orang yang memiliki kriteria-kriteria sebagai penulis berita. Jadi jika anda mau bekerja dengan saya sebagai penulis berita, maka anda harus memiliki kepandaian dalam menulis berita.

      Di sini kita berbicara realitas di dunia kerja, dimana keprofesional seorang pekerja itu memang sangat dituntut.

      Ibarat kata, jika anda melamar profesi sebagai programmer Python (“Lowongan: Dibutuhkan programmer Python berpengalaman”), sedangkan yang anda tahu adalah PHP maka sebaiknya anda jangan melamar menjadi programmer Python. Anda memang berhak ikut malamarnya (“pasti lah, siapa juga yg melarang”), tapi anda tidak akan diterima, karena yg dicari programmer yang bisa Python bukan yg bisa PHP. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: